SIAP, ADA GEMPA!!

posted in: PPAK | 0

Ditulis oleh Pither Yurhans Lakapu

Dalam suasana setelah perayaan paskah, tanggal 11 April 2012, Indonesia dikejutkan dengan gempa berkekuatan 8,5 skalarichter yg mengguncang Aceh dan sekitarnya. Padahal 8 tahun lalu (26 Desember 2004) daerah ini baru saja diguncang gempa dahsyat disertai gelombang tsunami yg meluluhlantahkan daerah serambi Mekkah. Banyak pengamat menilai gempa ini terlalu cepat terjadi, diluar prediksi. Tak biasa gempa besar terulang dalam waktu yg singkat.

Dalam hal mitigasi kegempaan, kekuatan dan waktu terjadinya gempa tektonik hingga saat ini masih menjadi misteri. Belum ada riset yang dapat memprediksi dengan pasti kapan waktunya, apa lagi mencegahnya. Yang dapat dilakukan hanyalah usaha untuk berjaga-jaga agar ketika gempa itu benar-benar terjadi maka kita sudah siap mengantisipasinya dan korban jiwa dapat diminimalisir sebanyak mungkin. Usaha itu diantaranya mendesain bangunan tahan gempa, edukasi masyarakat agar sigap dan tidak panik saat terjadi gempa dan membangun sistim peringatan dini tsunami.

Seperti terjadinya gempa, tidak ada satu orangpun yg dapat mengetahui kapan kedatangan Tuhan Yesus yg kedua kali sebagai Hakim dan Raja atas bumi baru dan langit yang baru. Ia akan datang seperti kilat yg memancar (Mat 24:2).

Tentang ini, Tuhan Yesus memberi sebuah ilustrasi seperti tuan rumah yang bepergian dan menyerahkan tugas kepada hamba-hambanya. Yesus mengakhiri dengan memperingatkan, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!” (Markus 13:35-37).

Tuhan Yesus mengatakan bahwa seorangpun tidak tahu dengan pasti, Ia hanya memperingatkan agar berjaga-jaga supaya tidak didapati sedang tidur. Yesus menggunakan kata tertidur untuk mengilustrasikan bagaimana kita harus selalu ‘tersadar’ dan mempersiapkan diri kita setiap saat bila waktunya tiba. Dalam ayat-ayat sebelumnya Yesus hanya memberikan tanda-tanda yang akan mendahului kedatanganNya yang kedua seperti Bait Allah akan diruntuhkan, penyiksaan, perang, munculnya nabi-nabi palsu, gempa bumi dimana-mana, kelaparan dan lain-lain. Paulus dalam II Tesalonika 2:1-17 juga menjelaskan bahwa saat kedatangan Kristus kedua kali akan diawali dengan adanya kedurhakaan besar. Karena itu kita perlu membenahi pikiran yang salah tentang hari Tuhan dan cara-cara hidup yang benar dalam menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali. Kita harus siap setiap saat, masalah waktu tidak ada yang tahu. Tanda-tanda itu hendaknya tidak membuat kita gelisah tetapi agar kita terus bersemangat melayani Tuhan.

Pertanyaannya adalah cara praktis seperti apa yang harus dibuat orang Kristen untuk berjaga-jaga menghadapi kedatanganNya yang kedua?

Kata kerja kunci untuk menjawab pertanyaan ini adalah “jangan menunggu”. Ya, jangan menunggu kesempatan terbaik untuk melaksanakan apa yg difirmankan Tuhan. Kalau kita menunda untuk melaksanakan FirmanNya saat ini, itu berarti kita sedang mengharapkan saat atau kondisi terbaik menurut keinginan daging kita, bukan kehendak Tuhan.

Jangan menunggu waktu yang baik untuk menjadi teladan. Jangan menunggu sampai kondisi politik aman baru mau menginjili. Jangan menunggu atasan berganti dengan orang yg baik baru mau disiplin. Jangan menunggu pendeta/gembala sidang diganti orang yang kita suka baru mau melayani. Jangan menunggu menjadi kaya baru mau berbagi dan memberi persembahan. Jangan menunggu situasi ekonomi membaik baru rajin berusaha. Jangan menunggu diawasi baru mau berintegritas. Jangan menunggu punya tim kerja yang profesional baru rajin bekerja. Jangan menunggu fasilitas yang baik atau teknologi sudah maju baru mau menjangkau banyak jiwa tersesat. Jangan menunggu musuh menjadi baik hati baru mau mengasihi. Jangan menunggu ……… baru mau …….. (dst. diisi sendiri).

Karena kondisi ideal yang kita tunggu mungkin tidak akan pernah terjadi. Waktu terbaik itu adalah SEKARANG. Kondisi ideal ke depan yang ditunggu bisa saja direnggut oleh situasi politik yang berubah, ekonomi yang memburuk, kesehatan yang semakin menurun, bencana alam, wabah penyakit dan lain-lain.

Jika kita masih menunggu, saat itulah kita sedang tertidur.

Comments are closed.