Dia Telah Mengakhiri Pertandingan dengan Baik (Ibu Ruth Chambers yang Saya Kenal)

posted in: PPAK | 0

Hari Selasa malam tanggal 23 Oktober 2012, saya mendapat SMS dari Santhy Chamdra, alumni PPAK Kupang, memberitahu tentang akan diadakan rapat dalam rangka mempersiapkan rencana kunjungan Pak John Chambers dan Pak Budi Setiamarga ke Kupang awal November. Saya lalu broadcast SMS itu lewat grup Facebook PPAK Kupang. Datang komentar dari kak Butje Fanggi, alumni Kupang yang saat ini sedang studi di Australia sekedar bertanya tentang tujuan kunjungan mereka apakah hanya untuk PPAK atau untuk tujuan lain juga. Kami memberi tahu kalau kedatangan mereka untuk memberikan pelatihan Langham bagi pelayan-pelayan GMIT.

Walau dari berita yang saya forward tadi tertulis hanya Pak John dan Pak Budi namun kak Butje berkomentar seolah Ibu Ruth juga akan ikut ke Kupang. Barulah kemudian diberi tahu lagi kalau yang datang cuma Pak John, Ibu Ruth tidak ikut.

Saya memahami “ketidaktelitian” kak Butje karena bila berbicara tentang pelayanan Pak John, yang terbayang adalah disitu pasti ada Ibu Ruth. Ibu Ruth dan Pak John tidak bisa dipisahkan. Saling mendukung, saling menguatkan, saling melegkapi dan se-visi, itulah kesan yang saya dapat dari Ibu Ruth dan Pak John sejak pertama kali mengenal mereka tahun 2005.

Baru berbicara tentang Ibu Ruth, 3 hari kemudian, tepatnya tanggal 26 Oktober 2012 pukul 14.40 WITA, tiba-tiba datang lagi SMS dari Santhy, “Syalom, berita dukacita. Telah meninggal dunia Ibu Ruth Chambers tadi malam jam 11 di Inggris (jam 5 pagi WIB).” Rasanya tidak percaya kalau Ibu Ruth telah pergi. Hati terasa sedih sekali. Ingin segera menyebar berita ini tapi rasa tidak yakin membuat saya sejenak mengurungkan niat dan kembali bertanya kepada Santhy tentang kebenaran berita ini, termasuk bertanya penyebab dan dimana Bapak saat itu. Santhy memberi tahu kalau sebenarnya Bapak sudah berada di Indonesia tapi segera pulang ke Inggris ketika ada berita Ibu sakit keras. Saya makin terharu sekaligus bersyukur saat tahu kalau Bapak sempat bertemu dengan Ibu sebelum menghembuskan napas terakhir. Setelah yakin barulah informasi itu ku-upload ke Facebook.

Meski hanya 7 tahun lebih mengenal Ibu Ruth, rasanya sangat banyak hal yang bisa kuteladani dari beliau. Kesan yang mendalam dan cukup mempengaruhi perjalanan hidup saya. Kesehatian melayani bersama Pak John adalah bukti teladan yang tidak bisa disangsikan.

Dua kali berdua mereka berkunjung ke Kupang dan interaksi selama mengikuti PPAK di Bandung menjadi kenangan yang selalu kuingat. Pada bulan Juni 2012 lalu, Pak John datang ke Kupang sedangkan Ibu tidak bisa ikut karena kesehatan tidak mendukung. Walaupun demikian, Ibu Ruth masih memberikan pembinaan mentor dan menyampaikan materi PPAK I Kupang via teleconference. Ibu Ruth sangat senang akhirnya PPAK bisa dilaksanakan di Kupang, pertama kali diadakan selain di Bandung. Ibu juga menyampaikan keinginannya untuk bisa hadir bersama Pak John tapi tidak bisa. Beliau mengingatkan agar pembinaan tidak hanya menekankan aspek pengetahuan tapi yang lebih penting adalah pembentukan karakter.

Sesuatu yang jarang ditemukan melihat antusiasme, kesehatian dan kekompakan suami istri dalam melayani hingga masa tua dan maut memisahkan. Rasanya usia dan keadaan fisik bukanlah halangan bagi Ibu Ruth untuk bersama Bapak John terus melayani. Semangat melayani tetap menggebu walau usia sudah uzur.

Saya mengenal Pak dan Ibu Chambers bulan Februari 2005 dalam visitasi pelayanan mereka ke Kupang. Saat itu, saya masih mahasiswa yang menunggu diwisuda. Saat itu pula saya sedang mempersiapkan hati mengikuti PPAK 18 di Bandung bulan Juli-nya.

Dalam acara weekend alumni/pra-alumni Perkantas Kupang di Soe yang bertema membentuk pelayanan dan kehidupan keluarga Kristen, saya mulai mengagumi bapak dan ibu ini yang bukan saja memberikan materi begitu jelas dan mendetail tentang pentingnya visi melayani sebagai keluarga Kristen tapi itu juga terlihat jelas dari sharing pengalaman mereka. Padahal jujur bahwa awalnya tema yang diangkat panitia tidaklah terlalu menarik bagi saya yang masih pra-alumni dan pikiran lebih didominasi oleh bagaimana bekerja setelah diwisuda nanti. Belum terlalu memikirkan tentang berkeluarga.

Lima bulan kemudian perkenalan dengan mereka semakin mendalam ketika saya ikut PPAK di Bandung. Bapak membawakan materi-materi ekposisi sedangkan Ibu membawakan materi pembinaan watak, termasuk didalamnya tentang keluarga Kristen. Saya semakin paham tentang pentingnya keluarga Kristen yang melayani Tuhan dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari baik dalam rumah tangga, gereja dan masyarakat. Keluarga adalah pondasi utama pelayanan yang harus benar-benar kuat. Ini jelas terlihat dari sosok Ibu dan Bapak Chambers. Apa yang dibicarakan sebenarnya hanya membahasakan tindakan yang telah mereka lakukan. Teladan lebih banyak berbicara dibanding kata-kata. Teladan lebih membekas dibanding sebuah seminar internasional sekalipun.

Pertemuan kami berlanjut saat tahun 2007 Bapak dan Ibu berkunjung ke Kupang lagi untuk mini PPAK Kupang. Interaksi selama satu minggu itu tak lebih sebagai ajang pertemuan saya dengan model dan idola saya dalam pelayanan. Saya senang diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan beliau.

Bagi saya Ibu Ruth telah memberikan teladan ideal seorang yang setia mendukung suami menjadi pelayan Tuhan lewat profesi, walaupun bukan menjadi pendeta. Melayani dan menjadi teladan sebagai keluarga Kristen yang secara total mempersembahkan diri untuk Tuhan hingga ajal memisahkan.

Kini Ibu telah pergi, sang pemberi motivasi telah tiada. Hanya teladan yang dia tinggalkan dan selalu membekas. Melihat Ibu, visi PPAK jelas hidup didalam diriya. Ibu telah berhasil mendukung Bapak dalam menanamkan visi itu,

“Memperlengkapi sarjana Kristen agar dapat menjadi saksi Kristus yang setia dalam keluarga, profesi dan masyarakat serta ikut memberdayakan gerejanya untuk melayani sesama.”

Ibu Ruth telah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan baik dan telah damai bersama Bapak di Sorga. Tugas kita adalah meneruskan visi itu. Saya melihat Ibu Ruth seperti Rasul Paulus yang berpesan kepada Timotius,

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya” (2 Timotius 4:7-8).

Selamat jalan Ibu Ruth, kami sangat kehilangan fisikmu tetapi teladanmu akan selalu menyemangati kami.

Semoga Bapak John bersama keluarga dihibur, dikuatkan dan diberi ketabahan melewati hari-hari kedepan.

Pither Yurhans Lakapu.

http://pitherpung.blogspot.com

Comments are closed.