Bangunlah! Angkatlah Tilammu dan Berjalanlah…

posted in: PPAK | 0

Menjalani hari-hari selama 2 tahun sebagai orang lumpuh bukanlah suatu perkara yang mudah. Rasa sakit dalam tubuh, kesepian, kondisi psikologi karena perubahan fisik dan pergumulan mencari kehendak Tuhan dalam situasi-situasi sulit harus aku hadapi.

Bahkan sampai dengan saat ini menyebut kata ‘lumpuh’ saja aku seolah tak sanggup. Aku lebih suka menyebutnya dengan ‘kaki mati rasa’ atau ‘kaki tidak bisa digerakkan’ daripada menyebut diri lumpuh, padahal sama maksudnya. Ketika menyebut kata lumpuh aku merasakan kesedihan yang luar biasa, tak sanggup aku berkata-kata lagi bila sudah lebih dahulu menyebut kata lumpuh. Sebaiknya menghindari kata itu.

Entah mengapa? Mungkin diriku belum siap menerima kenyataan? Ataukah ini bentuk keyakinan diri bahwa aku pasti sembuh? Entahlah. Dalam kondisi ini, mempertanyakan berbagai hal pada Tuhan itu pasti. Apa dosaku yang begitu besar sehingga Tuhan harus menghukumku dengan berat? Bila Tuhan sedang membentukku, mengapa harus dengan cara ini? Jika ini perbuatan iblis, mengapa Tuhan tak kunjung menolongku?

Menjadi orang lumpuh itu sangat berat. Kenyataan ini bukan saja bicara tentang kata lumpuh tapi menyangkut kejadian-kejadian lain yang tidak normal. Dua tahun harus berjuang untuk lepas dari berbagai tekanan hidup, kondisi kesehatan yang naik turun, impian-impian yang hilang, kebutuhan dana hingga status sosial yang praktis berubah. Semua ini membuatku selalu berdoa agar sekiranya aku bisa menjadi normal kembali. Berharap kata-kata Tuhan Yesus kepada orang yang lumpuh di tepi kolam Bethesda, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” terjadi juga pada diriku. Namun lebih dalam merenungkan Yohanes 5:1-18 tentang orang lumpuh disembuhkan, ada pertanyaan muncul, apakah Tuhan akan menjawab pergumulanku hanya dengan berkata, “bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah”?. Bukankah dengan mengharapkan mujizat yang sama persis dengan apa yang tertulis itu berarti aku memaksa Tuhan, padahal cara Tuhan tidak terbatas untuk menolongku? Apakah karena kondisiku dengan orang tersebut mirip (sama-sama lumpuh walaupun Yohanes tidak menyebutkan secara spesifik mengapa ia lumpuh) sehingga jawaban terbaik yang aku harapkan adalah bangun dan berjalan?

 

Dari ayat 5-7 kita bisa melihat bahwa penderitaan si lumpuh selama 38 tahun menjadikan hampir hilang semua harapan. Satu-satunya cara yang ia (dan mungkin keluarga yang selalu mengantar ke tepi kolam) harapkan adalah masuk ke kolam ketika air kolam bergoncang. Ia tidak berharap cara lain lagi mungkin karena lamanya sakit yang diderita sehingga semua cara telah dicoba. Ia tidak berpikir akan ada orang lain yang datang menyembuhkan. Tuhan Yesus berkata, “maukah engkau sembuh?”
(ayat 7) menunjukkan inisiatif berawal dari Tuhan Yesus bukan si lumpuh. Ia tidak tahu atau sadar bahwa Tuhan Yesus adalah Tabib yang bisa menyembuhkannya. Tuhan Yesus hadir untuk menjawab pergumulannya dengan cara yang tidak biasa, menyuruh bangun, angkat tilam dan berjalan. Bagi orang itu, cara yang Yesus buat adalah cara yang diluar pikiran dia yang selama ini selalu berharap bisa masuk ke kolam saat air tergoncang.

Saat inipun aku sangat berharap Tuhan Yesus datang dan berkata “bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” namun jika melihat mujizat-mujizat Tuhan Yesus dalam Alkitab, nyata bahwa apa yang dibuat Yesus tidak dengan satu cara. Yesus menyembuhkan orang sakit ada yang hanya dengan kata-kata, ada yang dengan media seperti ludah, dengan jamahan, dengan sentuhan jubah dan lain-lain. Ini membuktikan kalau Tuhan berkenan menyembuhkan seseorang maka tidak ada ‘standar operasional’ atau ‘kode etik’ yang Ia terapkan. Ia bisa menggunakan cara apa saja diluar nalar manusia untuk menolong orang yang padanya Ia berkenan.

Melihat apa yang sudah Tuhan perbuat bagiku aku sadar bahwa cara Tuhan tak terbatas untuk menunjukkan kasih dan mujizatnya. Kejadian-kejadian ini menjadi bukti :

• Selama 2 tahun sakitku, aku telah menghabiskan dana lebih kurang Rp. 500 juta. Dana sebesar ini adalah sebuah mujizat luar biasa. Dari mana aku bisa mendapat dana sebesar ini kalau bukan mujizat dan pertolongan Tuhan? Biasanya disaat kondisi keuanganku kritis, tiba-tiba ada SMS kalau ada yang kirim uang ke rekening, ada pemberitahuan kalau sudah ada uang terkumpul buatku atau pemberitahuan bahwa klaim asuransi disetujui. Tuhan berkuasa menggerakkan orang lain dan menggunakan segala cara untuk menjadikan mujizat itu nyata.

• Suatu kali ketika di ICU, kondisiku kritis, hemoglobin (Hb)-ku sudah turun dan butuh transfusi, suster-perawat kesulitan mencari nadi di tanganku untuk memasang jarum infus sehingga sempat tertunda beberapa jam, tiba-tiba aku mendengar ada orang yang masuk dan mengontrol. Ia bertanya mengapa belum ditransfusi, jawab perawat karena sulit menemukan nadi di tangan. Lalu orang tersebut memaksa untuk segera ditransfusi lewat kaki saja, khan yang penting adalah menyelamatkan nyawanya dulu, urusan sakit ato pincangpun itu urusan belakangan. Akhirnya bisa ditransfusi lewat kaki dan Hb-ku normal kembali. Ini
adalah mujizat karena aku tidak tahu siapa orang itu dan perawatpun tidak kenal, padahal orang tersebut masuk ke ruangan bukan pada jam berkunjung yang harusnya dilarang masuk. Siapa dia? Mungkin malaikat yang diutus menolongku.

•Saat dalam kondisi kritis diawal sakit dulu, dokter sudah menyerah, usaha yang dibuat sudah maksimal tapi virus sudah terlanjur masuk sampai ke paru-paru dan jantung, hanya mujizat yang bisa menolongku. Dan mujizat itu benar terjadi, aku bisa keluar dari kondisi kritis dan masih bisa menikmati napas hidup sampai detik ini.

• Aku tidak pernah berpikir bahwa Tuhan sudah mempersiapkan bagiku orang- orang yang akan menolongku sejak bertahun-tahun sebelumnya. Tuhan sudah mempersiapkan orang-orang lewat PPAK, PERKANTAS, PMK/PSK, Gereja dan organisasi sosial yang didalamnya aku terlibat untuk membantuku ketika dalam kemalangan. Juga selalu ada saudara yang setia merawatku dan melayani kebutuhan-kebutuhanku setiap saat. Ketika yang lain jenuh, ada orang yang dipersiapkan untuk meneruskan atau menggantikan. Hanya Tuhanlah yang mampu mengatur dan menggerakkan hati mereka untuk menolongku.

• Selama 2 tahun ini aku bisa sabar menjalani hari-hari yang membosankan di atas tempat tidur dengan rasa sakit di badan. Aku juga tidak terlalu stress dengan kejadian-kejadian berat selama sakit misalnya : Mama meninggal hanya 12 jam setelah aku diijinkan dokter untuk pulang dari Rumah Sakit, harus melewatkan 1 tahun di Surabaya hanya ditemani adikku padahal aku tidak punya siapa-siapa di kota ini dan tidak pernah tiggal disana. Ia selalu memberiku jalan keluar, kekuatan dan sukacita.

Itulah beberapa bentuk dari ‘mengangkat tilam dan berjalan’ bagiku walaupun harapan untuk bangun dan berjalan yang sebenarnya masih terus ada hingga detik ini. Aku tidak bisa membatasi cara Tuhan untuk menerapkan mujizat-Nya dalam hidupku. Jika mujizat yang dilakukan bagiku adalah ‘mengangkat tilam dan berjalan’ pastilah aku tidak bisa lebih banyak belajar mengenal cara lain yang Ia perbuat bagiku dan tidak banyak rasa syukur keluar dari hati ini. Aku pasti akan sama dengan si lumpuh : tidak tahu dan lupa siapa yang telah menyembuhkan dia (ayat 13). Dengan penderitaan ini karakterku diuji dan dibentuk. Aku lebih mengerti tentang kesabaran, penyerahan diri, ucapan syukur, kerendahan hati, kasih, kemurahan, kesucian hidup, persaudaraan, dan lain-lain. Dengan penderitaan ini aku menjadi lebih dekat pada-Nya dan bisa bersaksi pada orang lain bahwa Tuhan Yesus sungguh luar biasa. Ku yakin Ia juga akan menyembuhkanku dengan cara-Nya. Amin.

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. (Mazmur 37:5)

Comments are closed.